Monday, August 15, 2022

DETOX

I decided to deactivated my Instagram accounts for undetermined time, uninstall Telegram, dan juga uninstall Twitter (nggak dinonaktifkan karena akun twitter bisa hilang permanen kalau kita non-aktifkan lebih dari 30 hari). Saya juga memutuskan untuk matiin last seen Linked In. Sayangnya, notifikasi online dan typing di Whatsapp nggak bisa dimatiin juga :(

So, here I am. Reunite with my lovely blog as a part of my therapeutic journaling hehehe 

Belakangan ini, tingkat kecemasan saya nggak tau kenapa lagi tinggi-tingginya. Dan hasrat untuk checking on someone's (or more) activities online bener-bener lagi susah ditahan. Efeknya, kecemasan saya jadi makin tinggi dan membayangkan kembali menjadi manusia prik bener-bener bikin bergidik ngeri. Dulu saya udah kayak FBI, bisa-bisanya online-stalking orang sampe ke akar-akarnya.  

Kecenderungan menjadi obsesif itu bener-bener bikin saya jadi overthingking parah dan hidup jadi nggak tenang. Setelah sadar bahwa  kebiasaan merusak itu bisa "diobati" dengan tekad yang kuat dan juga dengan cara menjauhi sumber kecemasannya, saya pun bertekad untuk memperbaiki diri hehehe. Beberapa kali saya udah berusaha menantang diri saya untuk melakukan hal yang sama seperti sekarang dan so far berdampak positif banget. 

Kadang, saya memang masih jadi orang menyebalkan dengan kekurangan-kekurangan saya. Tapi, saya juga bangga, karena saya sekarang bukanlah orang yang sama dengan saya di tahun lalu, bahkan mungkin bukan orang yang sama dengan saya enam bulan yang lalu. Saya berusaha untuk lebih menghargai dan mencintai diri sendiri, dengan cara-cara yang membuat saya lebih tenang dan tanpa melukai orang lain.

Detox ini juga bagian dari saya untuk melatih mengambil kontrol terhadap aktifitas yang saya lakukan. Selama ini, saya merasa hidup saya sering tidak terkontrol. Keputusan, kegiatan, dll, banyak dipengaruhi oleh orang lain dan juga dilakukan untuk orang lain, ntah karena sebelumnya saya punya tanggung jawab yang besar untuk diri sendiri dan orang lain, atau karena saya ngerasa bahwa dulu saya ini people pleaser banget sih. Saya ngerasa dulu nggak punya boundaries, dan saya takut banget orang-orang disekitar saya pergi, lalu saya akan merasakan kesepian. 

Sekarang, saya berusaha menanamkan kepercayaan bahwa kebahagiaan itu datangnya dari dalam kita sendiri. Berfokus pada hal-hal yang bisa kontrol dan berusaha untuk nggak memusingkan hal-hal di luar kontrol kita (jujur pada awalnya untuk meresapi belief ini susahnya minta ampuuun, dan sampai sekarang pun saya masih suka keluar jalur). Misalnya, apa yang orang lakukan terhadap kita, baik atau buruk, adalah sesuatu yang nggak bisa kita kontrol, tapi bagaimana kita menanggapi prilaku orang terhadap kita, adalah sesuatu yang bisa kita kontrol. 

Apa yang orang bicarakan tentang kita, baik atau buruk, adalah sesautu yang nggak bisa kita kontrol, tapi apa yang kita bicarakan tentang orang lain, adalah sesuatu yang bisa kita kontrol. Perasaan orang lain ke kita juga bukanlah hal yang bisa kita kontrol, tapi perasaan kita ke orang lain adalah hal yang bisa kita kontrol. 

Jadi, semuanya adalah tentang bagaimana kita menanggapi apa yang terjadi pada kita. Saya masih inget banget rasanya saat saya merasa dunia ini nggak berpihak sama sekali sama saya. Capek, nggak punya uang, nggak punya semangat hidup, ngerasa nggak punya teman, keluarga, dan nggak punya orang yang bisa saya andalkan. Waktu itu satu-satunya jalan keluar yang terpikir adalah dengan cara take my life away. Dan perasaan-perasaan negatif itu bener-bener nggak enak banget.

Jadi detox ini sekaligus melatih self-control saya, untuk berusaha nggak memiliki keterikatan berlebihan terhadap seseorang maupun prilaku seseorang, baik keterikatan terhadap hal yang sifatnya positif (misalnya support, kata-kata manis) maupun keterikatan yang negatif (rasa takut ditinggal, kebutuhan untuk divalidasi) dll. Karena attachment akan menghasilkan ekspektasi, dan ekspektasi terkadang menghasilkan kekecewaan. Bukan berarti saya berusaha bakalan jadi orang yang nggak bisa diandalkan untuk orang-orang terdekat saya. Orang-orang terdekat tentunya masih bisa mengandalkan saya, dan saya juga tentunya masih membutuhkan mereka di hidup saya dan juga butuh someone to rely on. Tapi, bagaimana saya mengontrol keterikatan yang berlebihan yang saat ini sedang saya kontrol agar ekspektasi saya nggak akan membuat saya terluka.

Tuesday, April 26, 2022

🙃

 Pernah nggak sih, ngalamin perasaan nggak punya alasan untuk ngelanjutin hidup lagi? Rasanya terlalu sedih, terlalu kosong, terlalu hampa, terlalu sendiri... Nggak ada lagi harapan dan mimpi yang pengen diwujudkan. Nggak ada lagi yang bisa bikin semangat bangun pagi, melanjutkan hidup sampai lelah, lalu pulang untuk beristirahat... Nggak ada siapa-siapa lagi yang mau saya bikin bangga. 

Kalau mau ala-ala motivator, emang banyak yang bisa disyukuri. Tapi untuk saat ini, semua yang perlu disyukuri terasa seperti omong kosong aja.  Nggak tau kenapa nggak ada lagi yang terasa berharga, nggak ada yang bikin puas, dan bahagia. Bahkan untuk memunculkan rasa syukur sedikit saja udah nggak bisa. 

Semuanya terasa aneh. Dan terasa salah. Melanjutkan hari demi hari cuma karena badan masih sehat dan masih ada besok yang harus dilalui. 

Thursday, April 21, 2022

Jadi Manusia Purba

Rasanya udah capek jadi manusia modern. Harus mikirin orang lain, pasangan, rasa sakit, uang, pendidikan, masa depan, anggapan orang. Overthinking... memikirkan kemana manusia pergi setelah kematian? Apakah meninggal sama dengan tidur panjang tanpa mimpi? Apakah ada surga? Apakah ada neraka? Terlalu ribet.

Pikiran rasional, akal sehat, dan keinginan mencari tau dan mencari kebenaran sungguh sangat menyiksa. Sekali lagi, RIBET...

Paling enak emang jadi manusia purba aja sih. Hidup simpel, berpikir simpel. Cuma mikir untuk membedakan mana batu yang dapat digunakan untuk alat berburu dan mana yang tidak, mana binatang yang enak dimakan dan mana yang tidak. Mana pucuk tanaman yang enak dimakan atau buah-buahan yang enak dimakan atau tidak.

Pure instinct as a living creature.

Cloudy Mind...

Minggu lalu, saya mengalami patah hati terberat yang bisa dialami seorang anak perempuan; kehilangan sosok ayah untuk selamanya. Sejujurnya sampai sekarang rasanya masih bener-bener hampa. Saya masih belum bisa  memproses rasa sedihnya. Saya masih merasa sosoknya ada di rumah, menunggu saya pulang ke rumah setiap jam makan siang buat nyiapin makan siang. Dan tiap mau jam pulang kerja ada urgensi untuk cepat pulang karena harus menyiapkan makan malam dan kedatangan suster. Kebiasaan yang saya lakukan non-stop selama 6 bulan terakhir selama ayah saya terbaring sakit.

Hidup saya nggak bakalan sama lagi. Begini ya rasanya benar-benar merasa sendirian? Walaupun dulu bapak saya menghabiskan hampir sepanjang waktunya di rumah di masa pensiunnya, paling enggak saya tau ada satu orang yang sangat mencintai saya yang siap pasang badan dan mengarahkan saya kalo saya lagi tersesat. Walaupun sodara banyak... tapi rasanya nggak ada yang dapat saya andalkan...

Entah Tuhan benar ada atau tidak, jika ada... tolonglah... saya sudah capek diuji wkwkwk... kehilangan, ditinggalkan, kelelahan, kesedihan... kapan ujian ini akan berhenti?

Life is a Dark Comedy...

 


Monday, February 28, 2022

Surrender.

Dear God... I am sorry... 

It's been a while since I reached out to you. 

I've been hiding out, sliding further from the light. 

Getting tired of fighting these battles on my own. 

My heart feels so heavy with pain, and there's white flag hanging above my door. 

I surrender. 

Please let what belongs to me to finds me... 

Please don't let me attached to what's not mine. Let me release them in a very subtle way... Until it does not hurt at all... 

Let me walk through the light one more time... Walk towards peace and happiness...

If the situation will not change, please change my heart. Let me free. 


Thursday, February 17, 2022

Tested Positive for Covid...

Tengah malem tadi, tiba-tiba ngerasain tenggorokan sakit dan kering. Hidung nggak berhenti meler sampai rasanya sumbat banget. Dari siang di kantor sebenarnya udah ngerasain badan kedinginan, tapi masih ragu apakah karena meriang atau karena faktor cuaca, karena kebetulan emang sepanjang hari hujan terus. Tapi karena kejadian hidung sumbat tengah malam itu bikin nggak tahan, akhirnya jam 3 subuh bela-belain ke Indomaret depan gang buat beli obat flu, paling enggak buat meredakan kemeleran yang nguras banyak tisu  ini hehe...

Tapi sepanjang hari kemarin udah sempet deg-degan dan curiga kalau ada kemungkinan bakalan kena Covid-19. Karena temen kantor yang kebetulan mejanya posisinya berdekatan udah dinyatakan positif, walaupun kami berdua nggak sekalipun berinteraksi tanpa masker, tapi kemungkinan untuk tertular tetap ada karena jarak tempat duduk kami nggak sampai satu meter. Terus dua malem sebelumnya, kakakku juga sempet dateng ke rumah dan waktu itu kebetulan kondisi badannya lagi nggak fit, dan temen kantornya juga ada yang dinyatakan positif. Akhirnya, kemarin sore kakakku tes antigen dan sayangnya hasil tesnya menunjukkan kalau dia positif Covid-19. 

Sebelum jam kerja tadi pagi, aku beraniin lapor ke HR kalau aku ngerasain gejala-gejala yang mungkin adalah Covid-19, dan sempet close contact tanpa masker sama kakakku yang positif. Dengan sigap, HR ku langsung minta aku tes PCR, nggak pake antigen lagi. BTW, ini pertama kalinya aku tes PCR dan ternyata swab di tenggorokan itu nggak sakit sama sekali. Yang masih berasa kurang nyaman adalah pas swab di hidung. Tesnya nggak pakai lama tapi antrinya puanjaaaang banget... kira-kira sejaman waktu tunggu sampai dapet giliran tes, dan katanya hasil tesnya bakalan keluar dalam 5-6 jam. Karena dapet giliran PCR jam 9:30, jadi hasil tesnya bakalan keluar sekitar jam 3 sore.

BTW, aku sempet takut banget positif karena takut nularin bapak yang sekarang lagi dalam kondisi kurang sehat dan punya kormobid. Kalau sampai ketularan dan diisolasi di tempat lain selain di rumah, bakalan gawat banget karena sekarang bapak masih perlu perawatan khusus untuk luka besar hasil operasinya kemarin. Kalau sampai di bawa ke tempat lain, bisa-bisa luka kakinya malah nggak dapet perawatan serius. Alhamdulillah, bapak nggak ada menunjukkan gejala apapun dan semoga tubuhnya dilindungi dari virus ini.

Selain itu, sempet denger kabar juga kalau saat ini isolasi mandiri nggak boleh lagi dilakukan dan harus lewat fasilitas karantina yang ditunjuk pemerintah. Kabarnya, satu kamar karantina bisa diisi 6-8 orang, makanya bikin gelisah karena pasti bakalan nggak nyaman banget, terutama karena ada jadwal kuliah online di Kamis, Jumat, dan Sabtu ini. Selain itu kerjaan kantor juga tetep harus dikelarin dari rumah biar nggak keteteran.

Jam tiga lebih sedikit, HR ngirimin skrisyut hasil tes PCR hari ini dan hasilnya... positif :(. Disappointed but expected. Tapi begitu keluar hasilnya langsung lega karena keluar dari zona abu-abu antara positif atau negatif. Dengan hasil ini, akhirnya bisa memutuskan langkah apa yang harus diambil selanjutnya. HR bilang sih petugas puskesmas bakalan menghubungi aku, tapi nggak tau persisnya kapan. Tapi berharap banget supaya kalau nanti akhirnya dihubungi, aku bisa punya opsi untuk isolasi mandiri, soalnya kamar super berantakan ini emang jadi tempat yang paling nyaman untuk nolep mode on hehehe...

Aku udah mulai nyiapin beberapa baju ganti kalau misalnya memang harus karantina. Untungnya, stok daleman bersih masih buanyak dan baju kotor juga udah pada dicuci, jadi nggak perlu banyak keluar kamar kalau nggak bener-bener perlu. Piring di rumah juga udah dipisahin dari yang lain, untuk berjaga-jaga aja. Kulkas juga udah penuh sama vitamin C dan alhamdulillah, kemarin abangku sempet bawain ikan lele berkilo-kilo hasil dia mancing, jadi stok makanan di rumah tercukupi walaupun enggak bisa ke pasar buat belanja. Jadi kalau nanti bisa isolasi mandiri, urusan perut masih aman walaupun bakalan makan lele ama telor terus berhari-hari.

Stok vitamin C di kulkas

Terus, karena gejala sakit tenggorokan ini, nggak tau kenapa rasanya jadi super hauuss dan pengen minum yang dingin dan manis terus, makanya sempet-sempetin nyetok teh dan beberapa merk minuman manis lain dalam kulkas biar hasrat minum manis ini terpenuhi. Gejala lain kayak mampet dan tenggorokan perih sejauh ini terpantau memburuk kalau udah mulai malem, kayak pas sekarang aku nulis ini, tanganku juga sambil sibuk ngelap-ngelapin ingus. Karena belum dapet petunjuk resmi harus minum obat apa, akhirnya memutuskan untuk minum obat andalan di kala flu : Pro Cold.


Selain dua ikhtiar sembuh di atas, cuma bisa pasrah dan jaga jarak sama orang rumah supaya mereka nggak ikutan ketularan, sambil berdoa juga supaya bisa isolasi mandiri di rumah aja biar tetep deket tapi berjarak (eaaak) sama bapak dan keluarga.

Akhir kata, hati-hati ya buat temen-temen semuanya. Tetep jaga kesehatan karena penularan Covid-19 ini beneran cepet banget. Tetep patuhi protokol kesehatan, terutama memakai masker dan mencuci tangan. Bye!

Wednesday, February 2, 2022

Let it go.

Let go of the dreams, let go of the life you envisioned together, let it all go, and start building a new future that involves only what you want.

Oh Wonder - Landslide


I know it hurts sometimes, but you'll get over it
You'll find another life to live, know you'll get over it
I know you're sad and tired, you've got nothing left to give
But you'll find another life to live, I know you'll get over it

So when you're caught in a landslide, I'll be there for you
And in the rain, give you sunshine
I'll be there for you, I'll be there for you
And every time that you're lonely
And every time that you're feeling low
 you should know I'll be there for you, I'll be there for you
I'll be there for you, you know

I know your hope is heavy, but you'll get over it
You'll find another life to live, I know you'll get over it
And I know you feel like everything is falling to the wind
But don't you let the thunder in, 'cause I know you'll get over it

You fell down by the wayside
Love locked in an overflow
And you threw stones at the starlight
'Cause I stood on the sidelines telling you
That I get that you're lonely
And I see that you feel alone
But I heard in a heartbeat
I'll be there for you, you know

Thursday, January 27, 2022

Runtuh




Ku terbangun lagi

Di antara sepi
Hanya pikiran yang ramai
Mengutuki diri
Tak bisa kembali
Untuk mengubah alur kisah
Ketika mereka meminta tawa
Ternyata rela tak semudah kata
Tak perlu khawatir, ku hanya terluka
Terbiasa untuk pura-pura tertawa
Namun bolehkah sekali saja ku menangis?
Sebelum kembali membohongi diri
Ketika kau lelah
Berhentilah dulu
Beri ruang, beri waktu
Mereka bilang, "Syukurilah saja"
Padahal rela tak semudah kata
Tak perlu khawatir, ku hanya terluka
Terbiasa untuk pura-pura tertawa
Namun bolehkah sekali saja ku menangis?
Sebelum kembali membohongi diri


-Feby Putri feat Fiersa Besari-

Friday, January 21, 2022

Belajar Lagi

Pertengahan tahun lalu, saya memutuskan untuk melanjutkan pendidikan S2 saya. Awalnya sih dorongan untuk melanjutkan studi muncul dari keluarga, biar ada gitu keturunan bapak saya yang sekolahnya tinggi,  dan supaya uang saya nggak habis buat hura-hura aja. Awalnya sempet mageeerrr banget. Biayanya lumayan mahal untuk saya yang susah nyisain uang tiap bulan, dan mikirin harus ngerjain banyak tugas disela-sela puyeng mikirin kerjaan juga awalnya bikin ragu.

Tapi setelah saya diterima dan sudah mulai kuliah, saya sama sekali nggak menyesal. Bahkan, saat ini saya berpikir bahwa ini adalah salah satu keputusan terbaik yang pernah saya buat. Pertama, karena saya jadi sadar kalau belajar itu asik. Memang sih, kita bisa belajar dari mana aja. Tapi belajar ilmu tertentu dari akademisi langsung itu memberikan pengalaman belajar yang beda banget. Nggak tau sih, apakah ini karena faktor sekarang saya mempelajari keilmuan yang relevan sama hidup dan pekerjaan saya makanya jadinya asik, atau metode belajar S2 ini emang agak sedikit beda daripada waktu kita S1. Di sini logika kita dituntut untuk mengorek-ngorek penyebab dari suatu masalah dan mencari solusinya, dengan diskusi, sharing, atau dengan melakukan riset singkat. Nggak melulu textbook dan tugas kayak pas S1 dulu, jadi walaupun namanya studi lanjutan, tapi rasanya lebih seru. Atau... ini cuma karena saya masih merasa salah jurusan aja pas S1 dulu ya, makanya sensi banget hehe...

Kedua, saya juga jadi punya pengalihan perhatian  yang positip, nggak melulu galau. Apalagi saya juga udah harus bikin thesis dari semester awal. Dan agaknya kalau udah mulai ngerjain thesis, pikiran bener-bener langsung fokus dan berasa kayak jadi orang pinter aja gitu... hehehe


                    Suasana  kelas pas belajar Metodologi Penelitian untuk bikin proposal thesis.

Dan ketiga, saya juga dapet banyak temen-temen baru dari berbagai background pendidikan dan pekerjaan. Beruntungnya, temen-temen baru ini sangat baik dan supportif. Seneng aja gitu rasanya. Btw, kuliahnya masih mix antara online dan offiline. Tapi kalau ketemu di kelas rasanya kompak banget kayak ketemu terus tiap minggu.


                Para temen-temen seperjuangan pas kuliah online. Tetep semangat walau habis capek kerja.

Tapi, semua perjuangan ini tentunya nggak melewati jalan tol yang lurus tanpa hambatan. Saat udah capek kerja, kadang tugas masih dikerjain pas mepet deadline karena kepala udah mumet banget. Apalagi bapak lagi sakit jadi kadang kepala udah pusing dan badan udah capek banget sampe pengennya rebahan aja. Tapi saya berjanji untuk diri saya sendiri agar nggak akan bikin perjuangan ini sia-sia. Uang yang berharga yang harus dikeluarkan di saat-saat lagi boncos kayak gini nggak boleh hilang begitu aja. Dan walaupun sejauh ini perkuliahan saya masih menjadi pencapaian pribadi aja... semoga suatu saat nanti ilmu yang saya dapetin ini bisa bermanfaat untuk orang lain.


Sekian curcol malam ini... ganbatte!