Sunday, May 13, 2012

Revie Novel After The Music - Diana Palmer

Hi Nice to meet you guys! Udah lama gue nggak nge-post karena aktifitas offline gue tidak menyempatkan gue untuk menulis review buku lagi. Nah, tapi di posting ini gue bakalan bikin review novel yang AMAT SANGAT GUE SUKAI! haha

Pokoknya ini adalah jenis novel yang harus dibaca untuk lo-lo semua yang menggemari novel romantis. Dan agak-agak nyesek ketika dibaca namun tersenyum senang ketika pada akhirnya lo nemuin kalau ending novelnya bahagia. Sebenernya gue memang nggak sreg kalau akhir novelnya sedih. Apalagi kalau kisah cintanya harus diwarnai oleh kematian. huhuhu sedih banget.


Nah balik ke novel ini, gue membaca novel ini di rentalan novel di deket rumah gue. Dan... gue minjem buku ini ampe 3 kali karena ketagihan. 3 kali minjemnya lho ya, bacanya berkali-kali men!



Judul Asli : After The Music
Judul Terjemahan : Nada-Nada Cinta
Penerbit Indonesia : Gramedia Pustaka Utama
Penerbit Luar : Harlequin Enterprise
Penulis : Diana Palmer



Jadi buku ini menceritkan tentang Sabina Cane, cewek miskin dari New Oerlans yang pekerjaannya adalah sebagai penyanyi rock kafe-kafe kecil. Sabina sebenernya, punya impian untuk jadi seorang penyanyi opera. Tapi karena Sabina nggak punya uang untuk membiayai biaya les menjadi penyanyi opera, maka impiannya itu ya hanya bisa jadi sebuah impian.

Sabina punya teman bernama Al. Teman baiknya yang kaya raya dan nggak malu temenan sama dia. Al pengen menikah sama pacarnya, namun Al takut menghadapi kakaknya, Hamilton Regan Thorndon III atau yang biasa dipanggil Thorn. Thorn adalah pemilik perusahaan super besar dan dia pengen pensiun muda. Jadi dia pengen kalau perusahaannya suatu saat nanti dipegang oleh adiknya, Al. Karena itu Thorn jadi sangat selektif dalam menyetujui hubungan Al dengan wanita. Thorn takut kalau cewek yang nanti menikah sama Al cuma mau menghabiskan harta keluarga mereka yang berlimpah-limpah.

Al pengen menikah dengan pacarnya yang merupakan temen Sabina. Nah, karena dia takut kalau pacarnya bakalan di introgasi sama Thorn, maka Al pun meminta Sabina untuk mengalihkan perhatian Thorn dengan pura-pura jadi pacar Al semenytara Al akan menikah dengan pacarnya sembunyi-sembunyi.

Tentunya, Sabina nggak masuk dalam kriteria yang sesuai untuk menjadi pacar Al. Thorn menganggap kalau Sabina cuma mau menghabiskan harta Al dan menjebak cewek itu habis-habisan. Mulai dari menyogok cewek itu, sampai membuat Sabina suka sama dia biar Al tau kalau ternyata pacarnya nggak setia.

Puncaknya, karena Sabina berani melawan Thorn dan cowok itu jadinya sangat kesal, maka pada sebuah pesta yang dibuat oleh Thorn, Thorn menceritakan pada seluruh tamu siapa Sabina Cane, calon istri adiknya. Informasi mengenai Sabina didapatkan pria itu ketika melakukan investigasi diam-diam mengenai latar belakang cewek itu. Thorn-pun membeberkan rahasia yang paling membuat gadis itu malu di dunia, bahwa ibunya hanyalah seorang "kupu-kupu malam" dari New Oerlans.

Saat itulah Sabina membenarkan kepada semua orang bahwa ibunya memang seorang wanita malam. Karena hanya itulah satu-satunya yang bisa dilakukan ibunya ketika keadaannya memburuk tiba-tiba dan dia tidak bisa bekerja di tempat lain. Kemudian, ironisnya ibu Sabina dibunuh oleh "tamu" yang menjadi suaminya. Karena suaminya mempunyai kelainan sekskual masokshistic dimana pria suka menyakiti pasangannya ketika berhubungan seksual.

Sabina juga mengatakan betapa ia sebenernya tidak membenci ibunya. Karena mereka udah hidup susah sama-sama. Nggak pernah beli pakaian baru karena pakaiannya mereka beli di toko barang bekas dan untuk makan hanya menunggu sisa makanan dari tukang daging.

Thorn menyesal. Dan sudah bisa dilihat sejak pertama kali kalian membaca buku ini kalau Thorn sudah tertarik pada Sabina sejak awal. Thorn berusaha minta maaf, namun Sabina nggak mau lagi bicara dengan cowok itu.

Beberapa waktu kemudian, band Sabina mendapat tawaran rekaman. Band itu diprediksi akan sukses di pasaran dan Sabina bersama Band-nya pun nggak cuma bisa manggung di bar kecil di New Oerlans lagi, tapi juga bisa manggung di hotel ternama di New York! Pada peluncuran album, sebuah lampu fokus jatuh dan menimpa kepala Sabina hingga gadis itu koma.

Dan ternyata, Thorn adalah produser Sabina tanpa diketahui gadis itu. Thorn juga selalu mengikuti kabar gadis itu dan hadir saat gadis itu manggung. Ketika Sabina sadar dari koma, ia melihat Thorn duduk di sebelah ranjangnya, kelihatan sangaaat berantakan. Cowok itu selama beberapa hari memang cuma menunggu Sabina sadar, dan dia juga jarang tidur.

Thorn meminta Sabina agar mengizikannya merawat Sabina sampai cewek itu sembuh. Karena Sabina nggak punya siapa-siapa lagi di dunia dan rumah Sabinapun nggak lebih dari apartemen sangat kecil yang Thorn pikir hanya sebagai gubuk kumuh.

Sabina awalnya menolak, karena harga diri dan karena dia nggak mau merepotkan Thorn. Tapi Thorn pada akhirnya mengatakan perasaannya yang sebenarnya pada Sabina. Dan Sabina juga merasakan cinta untuk Thorn hingga setuju untuk menikah sama cowok itu.

  • Novel ini memang bukan satu-satunya terbitan Harlqeuin yang menarik minat gue untuk membacanya. Tapi novel ini, bener-bener gue saranin untuk dibaca.
  • Karakter Thorn dan Sabina terasa begitu kuat di novel ini. Dan bahkan gue merasa kalau gue tidak membaca, tapi seperti gue sedang menonton film. Dan apa artinya itu? Itu berarti Diana Palmer tersayang telah sangat sukses sekali untuk memvisualisasikan kata-katanya dalam benak pembaca.
  • Tidak ada kematian di novel ini, seperti yang gue suka.
  • Dan yang paling menarik adalah karakter Thorn (biasa cewek, sukanya Thorn hehe). Di beberapa bagian, gue benci banget sama dia dan pengen ninju dia karena sikapnya yang kasar dan tidak sopan. Tapi gimanapun, gue nggak bener-bener bisa membenci Thorn karena gue tau dalam hatinya Thorn ingin, dan sangat jatuh cinta pada Sabina yang notabene pacar adiknya dalam skenario yang dimainkan Sabina dan Al.
  • Dan ending yang bahagia :)

Ps :

Sinopsis Dari Versi Asli (Berbahasa Inggris) :

Rock star Sabina Cane had heard plenty about the wealthy Hamilton Regan Thorndon III, head honcho of Thorn Oil. His brother, Al, warned her of Thorn's reputation for breaking hearts, but singing was Sabina's life and she was grateful for any work she could get. She and her band would take the gig in the New Orleans nightclub, even if it was owned by Mr. Thorndon III.

But Thorn wasn't the stuffy old businessman she'd expected. He was prickly, passionate, rock stubborn and liked to play matchmaker. And he had the perfect match in mind: he wanted Sabina, no matter what the cost. Didn't he know that there are some things money can't buy?

Sinopsis di atas kira-kira gue terjemahin seperti di bawah ini:

Bintang Rock Sabina Cane telah banyak mendengar tentang si kaya Hamilton Regan Thorndon III. Pemimpin dari Thorn Oil. Adiknya, Al, memperingatkannya reputasi Thorn untuk melukai hati seseorang, tapi menyanyi adalah hidup Sabina dan ia bersyukur untuk setiap pekerjaan yang ia bisa ia dapatkan. Dia dan Band-nya, akan mengambil pertunjukan di klub malam New Oerlans. Bahkan jika itu (club malamnya) dimiliki oleh Thorndon III.

Tapi Thorn bukanlah pengusaha tua membosankan seperti yang dia harapkan. Dia berduri, bersemangat, sekeras batu dan suka bermain Makcomblang. And dia memiliki pasangan yang cocok dalam pikirannya : Dia ingin Sabina, tidak masalah apapun harganya. Tidakkah dia tau, beberapa hal tidak bisa dibeli dengan uang?


Sinopsis terbitan Gramedia Pustaka Utama :

Semua berasal dari gurauan. Sabina hanya berpura-pura bertunangan dengan sahabatnya, miliuner Al Thorndon. Al membujuknya agar mau bersandiwara untuk memperdaya abangnya, Thorn. Al tidak punya pilihan lain kecuali membohongi abangnya. Dan ia menggunakan Sabina sebagai kaki tangannya. Sabina mengira sandiwara itu dilakukan hanya untuk semalam saja. Ketika Thorn menuduhnya sebagai wanita materialistis, Sabina tidak menggubris tuduhan itu. Ia tidak memikirkan segala akibatnya-bahwa Thorn akan menggali rahasia masa lalunya. Dengan membuka rahasia tersebut, Thorn akan menghancurkan usaha Sabina melupakan masa lalunya yang kelam. Tetapi dapatkah ia mengecewakan sahabat baiknya?