Monday, July 15, 2013

Pengakuan Tini dan Pelabuhan Joko

Dua atau tiga hari ini bisa dibilang jadi hari yang paling bikin gue sakit kepala.

Ini bukan cuma masalah hape senter gue yang hilang di warteg, bukan cuma tentang IP gue yang turun pangkat gara-gara satu mata kuliah paling bikin tensin, dan bukan cuma masalah THR yang belum cair-cair dari abang-abang gue. Intinya, ini bukan sekedar bokek nggak punya duit.

Ini masalah cinta. Masalah hati. Lebih tepatnya, masalah patah hati.

Dalam pikiran gue, terkadang berpura-pura tidak tau itu lebih baik daripada tau. Jadi itulah yang gue lalukan. Gue naksir seorang cowok, sebut saja namanya Joko, senior gue di kampus.

Satu hal dari Joko yang paling bisa bikin cewek-cewek klepek-klepek adalah sikapnya yang penuh perhatian dan humoris. Dan gue adalah salah satu dari bejibun cewek yang memutuskan melabuhkan hati ke dia, tanpa memikirkan apakah gue akan diterima di pelabuhan hatinya hehehe (kalau mau muntah, muntah aja. Gue udah duluan kok).

Dari sikapnya, setiap cewek bisa jadi salah paham. Dia sosok yang terlalu lembut untuk dijadikan temen, dia sosok yang terlalu charming untuk dianggap temen dan dia sosok yang terlalu perhatian untuk diabaikan. Intinya, dia adalah most wanted male... Bukan most wanted friend...

Jadi pada suatu hari, seorang temen gue bilang ke gue tentang perasaannya ke Joko. Gue emang nggak terkejut dengan pengakuan itu, karena seperti yang gue bilang sebelumnya, pura-pura nggak tau terkadang lebih baik daripada tau. Jadi itulah yang gue lakukan, pura-pura tidak tau apa yang menjadi kecurigaan gue tentang perasaan temen gue itu ke Joko.

Walaupun gue udah curiga tentang perasaan Tini, sebut saja begitu, ke Joko, gue nggak pernah berharap Tini bakalan cerita ke gue tentang perasaannya. Karena gue tau Tini tidak menceritakan perihal perasaannya ke Joko untuk minta pendapat atau saran. Hanya sekedar memberi tahu. Karena kami bukan teman dekat. Gue jadi curiga, mungkin Tini sengaja melakukannya karena dia sebenarnya menyadari gue juga menyukai Joko. Tapi dia berpura-pura tidak tau tentang perasaan gue ke Joko, seperti yang gue lakukan selama ini; pura-pura tidak tau kalau Tini naksir Joko.

Tapi bedanya Tini dibandingkan gue adalah, gue bukanlah orang yang gamblang menyebar luaskan apa yang gue rasakan pada orang lain. Jadi apa yang Tini lakukan membuat gue pelan-pelan, walaupun sulit, mencoba move on.

Gue tau, pengakuan Tini ke gue seperti membuat sebuah pemisah tak kasat mata antara gue dan Joko. Gue nggak bisa mengobrol dengan Joko secara lebih deket tanpa memikirkan pengakuan Tini. Gue nggak bisa melakukan apa-apa, untuk menjadi lebih dengan Joko, tanpa mengingat pengakuan Tini.

Gue sadari, ketidakberanian gue untuk jujur membuat gue akan jadi pengkhianat jika terus dekat dengan Joko. Walaupun gue mengenal Joko lebih dulu, mengobrol dengan Joko lebih dulu dan menyadari gue naksir Joko lebih dulu dibandingkan Tini. Karena, gue naksir berat sama Joko sejak first time kita ketemu. Jauh lebih dulu daripada Tini mengenal Joko.


Terkadang, gue menyalahkan diri gue karena mendengarkan apa yang Tini katakan. Terkadang gue menyalahkan Tini, karena berkata jujur pada gue. Terkadang. Gue menyesali, kenapa gue dan Tini tidak sama-sama bersikap diam. Sama-sama bersikap seolah-olah tidak tau perasaan masing-masing terhadap Joko. Semoga, pada akhirnya, Joko, gue dan Tini bisa menemukan seseorang yang tepat. Seseorang yang bikin gue, Joko dan Tini jadi orang yang lebih baik.