Friday, October 24, 2014

Pura-Pura Tak Jatuh Cinta







Ada seorang cewek, sebut saja namanya Bunga. Bunga ini adalah seorang mahasiswa jurusan Informatika semester dua yang masih labil, masih agak alay dan masih lebay. Labil karena Bunga seringkali bingung dengan apa yang harus dilakukannya sebagai seorang manusia. Misalnya Bunga pengen banget diet supaya berat badannya jadi lebih proporsional, tapi sering banget pura-pura lupa kalau lagi diet supaya bisa ngemil cokelat malem-malem. Agak alay karena masih sering bikin status Facebook pake tulisan g3dhe-KeChil, dan lebay karena masih belum bisa meletakkan dirinya di bawah kontrol. Misalnya pas lagi patah hati, Bunga bakalan dengerin lagu sedih melulu dari pagi sampai pagi lagi. Kalau dengerinnya pake headset nggak pa-pa juga, tapi terkadang Bunga lebih suka dengerin musik pake sound system anyar bokapnya hingga membuat tetangga-tetangganya dendam tujuh turunan.

Dan kini... Bunga si Labil, Alay dan Lebay sedang jatuh cinta. Lelaki itu, sebut saja bernama Kaktus. Pertemuan mereka pertama kali terjadi di salah satu acara seminar kampus. Kaktus bukanlah lelaki sempurna. Dia bukan Edward Cullen yang bisa ngajak Bunga lari-lari di hutan dengan kecepatan tinggi tanpa harus nabrak pohon. Dia juga bukan Harry Potter yang bisa memberikan apa saja pada Bunga dengan kekuatan sihirnya. Tapi dia, adalah seorang Kaktus. Kaktus adalah Kaktus. Dia adalah dirinya sendiri.

Dari tampang, Kaktus standard. Tidak bisa dibilang tampan atau kurang tampan. Dari segi materi, dia pun bukan anak pengusaha batu bara yang duitnya unlimited, juga bukanlah anak yang kekurangan sampai harus bela-belain banting tulang untuk bayar uang kuliahnya sendiri. Intinya : dari sisi manapun Kaktus adalah orang yang standard.

Tak ada yang luar biasa dari Kaktus. Tapi sejak mengenal Kaktus, Bunga jadi bisa merubah prospeknya mengenai pria idamannya. Bagi Bunga, sejak mengenal Kaktus, pria idaman tak hanya sekedar pria sempurna seperti di novel-novel teenlit : cool, anak basket, ketua osis, bawa mobil sport, pake sepatu Nike dan digilai banyak cewek. Pria idamannnya entah mengapa adalah pria seperti Kaktus saat ini. Tak perlu sempurna, yang penting bisa merasuk dalam mimpi-mimpi indahnya setiap malam dan membuat jantungnya senantiasa berdebar-debar karena mendamba.

Walaupun mereka jarang mengobrol, Bunga bisa merasakan di setiap kesempatan langka itu, obrolan mereka nyambung. Dan walaupun jarang bertemu, Bunga bisa merasakan di setiap kesempatan langka itu, pertemuan mereka selalu memberikan kenangan yang indah untuk dikenang.

Setelah bertemu Kaktus beberapa minggu lalu, Bunga menyadari bahwa kepribadian seseorang itu jauuuh lebih berharga daripada tampang dan harta. Bunga seneng banget pas dapet pin BB-nya Kaktus. Setiap menit dia mantengin Recent Update berharap kalau ada update terbaru dari Kaktus. Setiap hari, Bunga harap-harap cemas dan berdoa semoga sekali-sekali Kaktus BBM dia duluan. Tapi yaah... Harapan sia-sia. Memang, Bunga menemukan kecocokan diantara mereka berdua. Tapi entah mengapa Bunga merasa kehilangan harapan karena
Suatu hari, Bunga yang jatuh cinta diam-diam, harus benar-bener merasakan rasa sakitnya jatuh yang sesungguhnya setelah sebelumnya rasa jatuh itu tak terasa karena pengaruh hormon cinta.

Pelan-pelan, cinta mulai menunjukkan sisi antagonisnya. Dia memperlihatkan kepada Bunga bagaimana cinta itu tak selamanya indah. Ada dua sisi cinta, kini Bunga menyadari, yaitu bright side dan dark side. Bright side adalah ketika kita pertama kali jatuh cinta, ketika cinta kita berbalas, ketika kita bisa duduk berduaan di pinggir laut sambil mantengin bintang-bintang jatuh. Ya. Bright side. Dunia akan terasa indah, cerah dan bersahabat.

Sedangkan dark side adalah ketika kita menyadari bahwa cinta kita tak punya harapan. Seseorang yang membuat kita jatuh cinta ternyata jatuh cinta juga, tapi pada orang lain. Atau ketika cinta itu sebenernya ada harapan, namun harapan itu padam seketika karena alasan-alasan yang tak bisa disangkal.

Yah... Cinta menunjukkan kepada Bunga dark side dari perasaannya ketika seorang wanita- sebut saja Kamboja - mengatakan pada Bunga bahwa ia juga jatuh cinta dengan Kaktus. Salahku sendiri, Bunga selalu menyalahkan dirinya sendiri karena selama ini memendam perasaannya pada Kaktus sendirian. Jadi Bunga merasa serba salah. Ia tak mungkin melanjutkan perasaannya pada Kaktus ketika ia tau bagaimana perasaan Kamboja pada Kaktus. Membiarkan perasaannya berlanjut berarti berkhianat menurut Bunga, walaupun hatinya menyangkal, karena untuk mundur pun hatinya sudah terlalu sulit untuk diajak bekerja sama.

Kini, Bunga melihat bahwa Kamboja bergerak cepat. Kaktus dan Kamboja menjadi dekat. Dan Bunga kehilangan harapannya bahwa perasaannya akan berbalas.

Bunga kini hanya bisa berpura-pura tak jatuh cinta, memendam perasaannya lewat canda dan tawanya, berusaha sembunyikan perasaan dan debar jantungnya saat Kaktus mengajaknya berbicara. Berharap dalam hati pada masanya kelak, debar jantung yang menggila itu akan menurunkan ritmenya.

Bunga kini hanya bisa berpura-pura tak jatuh cinta, memendam perasaan lewat saran dan semangatnya, saat Kamboja berbicara tentang Kaktus kepadanya. Berharap, pada masanya kelak, cerita indah Kamboja dan Kaktus tak lagi membuatnya patah hati.

Dan kini, walaupun sulit, Bunga berusaha untuk mencari Kaktus yang lain. Seseorang yang dapat Bunga cintai hanya dengan menjadi dirinya sendiri, seseorang yang membuatnya nyaman dan seseorang yang tak hanya berinya harapan tapi juga membuat mereka memiliki sebuah harapan yang sama yang akan mereka wujudkan bersama-sama...

Wednesday, September 3, 2014

Pengalaman Placement Tes di English First dan New School of Chambridge

Hallo everibadi... Wah udah lama gue nggak nongol di blog ini dan rasanya capek banget gue ngelap-ngelapin debu yang sudah bertebaran di sini hehehe...

Yah kali ini gue ingin berbagi pengalaman mengenai Placement Test di dua tempat kursus yang berbeda. Yaitu English First dan New School of Chambridge Batam. Keduanya adalah tempat kursus yang cukup punya nama di Batam dan punya banyak sekali testimonial yang positif. Semoga, pengalaman gue kali ini bisa membantu kalian semua yang sedang mencari informasi mengenai kursus di Batam.

Oke, gue mulai dari Placement Test di EF dulu. Biaya yang dikenakan di EF untuk Placement Test-nya sendiri adalah seratus ribu rupiah, dan tesnya berupa interview dan tes menggunakan komputer. Tes komputernya sendiri terdiri dari 3 bagian, yang pertama adalah Grammar, kedua Listening dan yang ketiga adalah Reading. Untuk soal komputernya sendiri, Listening dan Readingnya sendiri menurut gue cukup mudah. Sedangkan kelemahan gue di Bahasa Inggris adalah grammar jadi no comment deh sama soal-soalnya. 

Setelah melakukan tes komputer kurang lebih 30 menit, gue dipanggil naik ke lantai 2 untuk sesi wawancara yang dilakukan oleh salah seorang teacher di sana. Sedikit kekecewaan melanda gue ketika yang mewawancarai gue bukan native, padahal selama gue ngubek-ngubek Google semuanya bilang sesi wawancara bakalan di laukan sama bule. Sesi ini sendiri cukup lancar walaupun gue di tengah jalan terkadang speechless. Si pewawancara ini memerintahkan gue untuk memperkenalkan diri dan setelah itu dia menanyakan pertanyaan-pertanyaan seperti hobi, apa yang gue lakukan di waktu luang dst. 

Sesi interview ini sendiri nggak memakan waktu cukup lama, hanya sekitar 5 menit aja. Selanjutnya gue disuruh ke lobi untuk menunggu hasil test gue. 

Dan tadaa!

Hasilnya intermediate. Cukup lumayanlah. Dan pada level ini gue bisa join ke dalam kelas Conversation. Tapi untuk beberapa alasan dan pertimbangan, gue belum bisa memilih EF, jadi gue mencoba survei dan melakukan Placement Test di satu tempat lagi, yaitu New School of Chambridge.


Pada awal pertama kita masuk, kita akan bertemu Mbak-mbak jawa berjilbab yang ditemani oleh bule. Nah, gue udah mulai interest nih dari awal. Langsung setelah gue bilang gue tertarik gue diajak untuk ikutan Placement Test. Sama seperti di EF ada 2 tahapan yang harus gue jalani, yang pertama adalah wawancara dan yang kedua adalah tes tertulis. Karena gue -pengen coba kelas untuk IELTS/TOEFL, maka ada dua lembar soal yang harus gue kerjakan. Yang pertama adalah soal yang untuk reguler dan yang kedua adalah IELTS Prepared. Dan.... suerr! Susah banget! Ibaratnya kalau di EF tingkat kesulitannya 6 dari 10, di NSOC ini tingkat sulitnya 8 atau 9. Bahasa Inggrisnya bo, susah habis! Soalnya lebih kompleks, kalau di EF soalnya adalah pilihan ganda semua, di NSOF soalnya berupa pilihan ganda, menulis cerita pendek dan mengisi titik-titik yang kosong dan menulis kalimat dengan tenses tertentu. Dalam 30 menit ada beberapa soal yang nggak gue kerjakan. Pusing!

Tes wawancara dilakukan selama gue mengerjakan soal. Jadi si bule datang dan duduk di depan gue, kemudian mulai menanyai gue. Sama seperti di EF dia meminta gue untuk memperkenalkan diri, dan setelah itu gue mulai ditanyai mengenai keseharian gue, liburan gue dan banyak lagi. Pada akhir sesi dia menanyakan apakah gue punya pertanyaan untuk dia. Tanpa pikir panjang gue pun menanyakan, asalnya dia, berapa lama dia tinggal di Indonesia, apakah dia bisa bahasa inggris. Dia juga menceritakan mengenai pekerjaannnya. Entah ada angin apa gue berhasil mengerti percakapan diantara kami berdua walaupun ada beberapa kalimat yang dia ucapkan bikin gue bingung. 

Setelah selesai gue menunggu lagi di lobinya. Di sana gue melihat kalau tes wawancara gue cukup oke. Nilai speaking gue good dan nilai listening gue OK. Tapi gue harus menunggu sampai besok untuk hasil tes tertulisnya untuk melihat level gue udah sampai dimana agar gue nggak salah kelas. Gue pun memutuskan untuk memilih di NSOC daripada di EF setelah pengalaman gue sendiri di kedua tempat itu.

Semoga pengalaman gue ini berguna ya untuk kalian yang ingin kursus bahasa inggris!

See youuu!!!

Thursday, July 10, 2014

Bertanya...




Gue bingung. Terkadang gue bertanya-tanya, kenapa Tuhan menciptakan hati kita ini fleksibel banget? Detik ini suka sama si A, detik berikutnya suka sama si B.

Gue bertanya... Jika Tuhan menciptakan cinta untuk mempersatukan kita, kenapa Tuhan menciptakan garis batas, baik kasat mata dan nggak kasat mata di antara dua orang yang saling mencintai? Garisnya batasnya banyak, lagi! Seperti perbedaan kasta dan agama... atau mungkin perbedaan kelamin? Dan kebanyakan berakhir pada perpisahan padahal mereka mencintai...

Gue juga bertanya... kenapa harus... satu orang dapat mencitai tapi yang satunya lagi tak bisa mencintai kembali? Apa susah ya, untuk melihat bahwa apa yang kita lakukan semua untuknya dan tanpa pamrih. Apa satu orang itu terlihat terlalu kuno, kutu buku, terlalu tinggi, terlalu bikin ilfil?

Gue bertanya... kenapa... Tuhan menciptakan cinta yang nggak semestinya. Kenapa Tuhan nggak menciptakan saja satu manusia dengan satu jodohnya. Jadi, tak ada cinta jika belum menemukan ciptaannya. Walaupun imbasnya... mungkin tak ada novel cinta, film cinta, yang tokohnya berselingkuh, yang tokohnya sakit hati... karena cinta mereka cuma satu. Tapi, sakit hati karena di dua, sakit karena tak ditakdirkan bersama... tak muncul lagi, kan?

Dan gue juga bertanya... kenapa? Kenapa? Sepasang insan yang mencintai dan dicintai, hidup bahagia sampai mati, tanpa rasa bosan, tanpa rasa tertekan dan dalam lingkupan kasih yang semakin lama semakin menggunung, kebanyakan hidup hanya dalam fiksi.