Friday, December 31, 2021

NEW F* YEAR


Di awal tahun 2021, saya ngerasa tahun ini bakalan jadi tahun yang sempurna. Kayaknya semua aspek dalam kehidupan saya bintangnya 5 deh. Percintaan, karir, teman-teman, keuangan, pendidikan, dan waktu itu, bapak yang lagi sakit juga udah hampir sembuh. Ibarat kayak breakthrough setelah beratnya 2019-2020, 2021 terasa seperti tahun yang akan dijalani dengan suka cita. Nggak cuma ngejalanin dengan senang, tapi di tahun ini rencana-rencana untuk beberapa bulan dan tahun kedepan sudah diplot. Seneng. Karena rencana menumbuhkan harapan, dan harapan mendatangkan kebahagiaan.

Tapi kayak di sinetron-sinetron, tiba-tiba hidup ngasih twist-twist yang membagongkan. Beberapa aspek seperti percintaan, keuangan, dan kesehatan tiba-tiba jungkir balik. Bapak juga tiba-tiba jatuh sakit, jauh lebih parah dari sakit-sakit sebelumnya. Mulai pertengahan tahun, rasanya cobaan datang bertubi-tubi. Nggak cuma cobaan dari orang-orang terdekat, isi kepala saya juga jadi ujian hidup. Butuh tenaga ekstra supaya nggak menyalahkan diri sendiri untuk semua hal buruk yang terjadi, terutama kalo udah di-trigger dengan disalah-salahin oleh orang lain, rasanya nggak tau keajaiban (atau kutukan?) apa yang bikin saya masih hidup sampai sekarang. Karena rasanya mau menyambung napas saja sudah malas.

Jadi, mengawali tahun dengan twist jelek di tengah dan akhir 2021, sebenarnya bikin males berekspektasi tinggi di tahun-tahun ke depan. Kalau yang disambut dengan lari-lari senang aja berujung jatuh, gimana yang diawali dengan langkah terseok-seok? Saya udah suuzon duluan... karena husnuzon selalu membuat saya kecewa. hiks...

Tapi saya nggak mau jadi orang yang menyedihkan banget. Di balik pengalaman sempet mengalami caregiver burnout beberapa waktu lalu, saya bersyukur masih diberi kesempatan untuk merawat bapak. Saya beruntung bisa mengenali apa yang sedang saya rasakan, sehingga nggak ngelakuin hal-hal nekat yang merugiin saya ataupun orang yang saya sayangi. Di saat saya bener-bener down, saya diberikan teman-teman yang supportive dan sangat baik, yang memvalidasi kesedihan saya dan nggak bandingin masalah saya dengan masalah orang lain atau masalah mereka sendiri.

Di tengah kelelahan untuk ngurusin rumah, keuangan, pendidikan dan pekerjaan, saya punya temen-temen kerja dan atasan yang bener-bener kayak malaikat yang mengerti kondisi mental saya lagi capek banget. Support mereka paling enggak bikin kerjaan saya nggak keteteran, walaupun kuliah saya kayaknya agak berantakan hehehe. Dan walaupun pengeluaran membludak dan bikin saya harus pintar-pintar mengelola, saya dikasih beberapa side hustle dadakan yang hasilnya bisa cover pengeluaran yang membengkak. Jadi kayak kerja rodi sih, dapet capeknya tapi nggak ngerasain seneng-senengnya. Tapi paling enggak saya nggak boncos, dan masih bisa mesen es green tea latte kalo kepengen. Dan walaupun tahun ini saya diuji lagi  dengan patah hati, saya bersyukur kali ini saya lebih tabah dan nggak banyak ngelakuin hal-hal bodoh & tolol kayak dulu-dulu, walaupun mempermalukan diri sendiri masih sesekali sih hehehe

Walaupun saya nggak mau adu kuat-kuatan sama masalah hidup, tapi tahun ini saya belajar banyak. Saya belajar mengucapkan selamat tinggal untuk orang-orang yang ingin pergi. Saya belajar memaafkan walaupun ada keinginan kuat untuk balas dendam. Saya belajar kalau ternyata dengan uang kuliah yang mahal dan biaya hidup yang tiba-tiba membengkak, saya bisa survive, jadi kalau situasi normal, seharusnya saya bisa lebih rajin menabung dan investasi. Saya belajar untuk menghargai dan support orang-orang yang ada di sekeliling saya, karena kita tidak pernah tau sampai kapan mereka akan tinggal. Saya belajar untuk bermimpi dan membuat rencana yang tidak melibatkan orang lain, hanya rencana dan mimpi untuk diri sendiri.

Di tahun 2022, saya nggak minta banyak. Saya cuma mau damai. Saya cuma mau tidak ada rasa sedih lagi.


Adios 2021.

Thursday, November 4, 2021

Everything

One day... You feel like you can have everything...

On the other day, you feel like you have nothing left. 

Can you trust life, when everything seems too good to be true? 

Or can you still have faith that everything will get better when everything is upside down? 



Wednesday, October 13, 2021

I Promise.

I can't tell you why bad things happen to good people
I can't tell you why the people you love the most are the quickest to leave
I can't tell you why relationship ends
I can't tell you why the most talented artist never get the recognition they truly deserve
I can't tell you why pain presents itself in the numerous, unjust way that it does in your life

Sometimes, everything just make no sense.  Unjust, too quick, and unexpected.
You don't need to understand why something happen to be okay with the fact that it did
It is not a detailed or logical explanation, but the willingness to grow...

But... I understand...
Growth is painful, change is painful... 

Cry it out and you'll absolutely get through this.
I promise.

Wednesday, June 23, 2021

LOVE IS IN THE AIR...

She acts like she never knows what she wants, and he won’t mind helping her find out what she’s into. 

He will allow her to be free, she will give herself completely to him. They both like spending time with each other because they never get bored when they are together.

She will have goose bumps each time she hears his great ideas. He will adore her for being so youthful and eager to learn something new every day.

He will be intrigued by the fact that she can never bore him, and she will respect him for being so intelligent.

They will talk about what they have done, with whom and why. Neither of them will be insecure about the love of the other one.

When they face challenges, they will simply prefer to share instead of dealing with it alone. And because they see things in the same way, they will agree with each other’s solutions without arguing.

They will only fight when they won’t be able to understand each other’s desires. And the more they will argue, the more they will get to know each other.

Together they can make the world more magical because they are both children at heart.

Saturday, June 12, 2021

Small Things That Matter

Belakangan ini gak tau kenapa sering dapet serangan panik dan overthingking... Kadang sering ngerasa kesepian, kadang pengen nangiiiisss, kadang capek, kadang butuh komunikasi ekstra ke semua orang dan jadi baperan.

Apakah ini tanda-tanda depresi ringan? 

Apakah ini efek PMS? Klise sekali Roma... 

Apakah ini salah satu efek mercury retrograde? Hmmm... Bisa jadi... Kalau iya, haruskah saya menahan diri untuk membuat keputusan besar sampai tanggal 22 Juni ini lewat? 

Apakah ini efek pressure kerjaan yang sedang tinggi-tingginya? Beberapa minggu ini emang sering dapet challenge kerjaan yang gak pernah dilakukan dan atau ditraining sebelumnya, mulai dari urus CoC ke SGS untuk eksport ke Kenya, belajar dokumen quality dan beberapa ISO, bikin COO untuk eksport ke Timur Tengah, semuanya belum pernah dilakukan dan deadlinenya minggu ini semua. Udah gitu kargo urgent bisa-bisanya kena random check bea cukai, jadinya delay berhari-hari... Nasip sebagai single fighter di kantor, mau nggak mau-mau harus muter otak sendirian gimana atur semuanya supaya bisa beres di waktu yang pas. Pressure pressure... 

Sempet sembelit pula dan harus fokus bikin (dan dengan disiplin menjalankan) financial planning untuk setahun ke depan karena memutuskan untuk S2 self-funded tahun ini. Another kind of life pressure! 

Nah kalo tekanan udah di ubun-ubun gini... Biasanya hal-hal lain dalam hidup ini mulai ikutan nyerang. Mulai kepikiran kapan bisa pulang ke rumah dan tidur di kasur sendiri tiap malam? Kapan komunikasi yang kurang maksimal dalam hubungan bisa balik normal lagi? Hmm.... Pusing. 

Hadeuh pundakku, tetap kuat ya 😂

Tapi belakangan ini juga mendadak menyadari kalo saya dikelilingi temen-temen yang sweet banget. Ga tau ya apa karena love languange saya ini Word of Affirmations atau gimana, tapi how the check on me secara reguler dan tanpa diminta rasanya bener-bener bikin hati anget. Gimana mereka mau ngeladenin curhatan pagi, siang, malam, ngasi puk-puk-puk ringan di kepala, mau ditelponin, dengerin voice note panjang-panjaangkuuuu... Means a lot! Sebenarnya masih ada lagi tapi ketikan WA nya khas banget ntar ketahuan siapa orangnya 😂

Bukti kecil, small kindness matter! Kadang hal kecil bisa ngimpact banget ke orang lain... 

Duh mulai baper. Love you guys 😘

Wednesday, June 9, 2021

Twenti Six My Age

Selamat tinggal angka 25!

Semalam, kaki resmi melangkah di hari pertama usia genap 26 tahun. Minggu lalu, pas isi formulir vaksin, masih ragu harus isi angka 25 atau 26 di kolom umur, soalnya kan belum ulang tahun ya bapak ibuk sekalian, walaupun cuma kurang 3 hari 😁

Tapi akhirnya... quarter life pertama resmi terhempas. Nggak nyangka umur udah banyak aja. Nggak nyangka waktu juga berlalu secepat ini.

Cake topper-nya cantik :)

Kemarin sempet dapet beberapa cake ultah dari temen-temen kantor dan temen main. Seperti biasa, sebelum ritual kibas-kibas lilin, kita harus make  some wishes dulu dong. Sebenarnya doa untuk diri sendiri sederhana aja sih, terus bahagia dan jangan pernah menyerah walau kadang hidup banyak masalah. 

Selain itu juga minta hidup cukup aja sih...

Pengen beli rumah uangnya cukup...

Pengen beli mobil uangnya cukup...

Pengen sedekah bantu sesama uangnya cukup...

Pengen jalan-jalan keliling dunia uangnya dan waktunya cukup...

Pengen ngerasa sedih, kesepian, putus asa, tapi ternyata dapat curahan cinta dan dukungan dari orang terdekat dengan dosis yang cukup untuk terus merasa bahagia...

Semua cukup, sampai gak ada tempat untuk merasa kurang dan kehilangan.

Ngelunjak juga ya? Yah gapapalah. Katanya, mintalah hanya pada Tuhan, karena ia berjanji apa yang kamu minta pasti akan dikabulkannya. Cukup satu syaratnya, mintalah dengan tulus dan sungguh-sungguh. Jadi karena bakal dikabulkan semua, boleh dong kalo mintanya nggak nanggung-nanggung? #eaaaak sok wise

By the way, setelah merenung, bertambah umur juga bukan berarti melulu soal berdoa, berharap, dan meminta. Tapi juga harus diisi rasa syukur karena :

Mata masih bisa melihat walaupun minus mata makin gede aja... 

Telinga masih bisa mendengar bisikan janji-janji manismu itu mas... 

Mulut masih bisa dipakai buat gombalin kamu mas... 

Hidung masih bisa mencium kebusukan yang kau tutupi itu mas... 

Tangan masih bisa menggenggam dan digenggam tanganmu mas... 

Kaki masih bisa berjalan dan berlari ke arahmu untuk memelukmu mas...

Makanan masih cukup, walau sekarang dikurang-kurangin biar kurusan... 

Masih punya pekerjaan... 

Masih punya waktu istirahat... 

Masih punya circle yang supportif... 

Masih punya ayah yang terus mendoakan semoga anak-anaknya sukses... 

Masih punya keluarga yang utuh...

Punya pacar... uhukk... walaupun kadang ngilang hahaha

Duh banyak banget ternyata kalau rasa syukur ini harus ditulis satu-satu.

Terima kasih karena hidupku bener-bener rasa es jeruk nipis pake gula Tropicana Slim. Ada asemnya, ada manisnya. Pas, ngga bikin diabetes walau kadang ada pahitnya dikit kalo biji jeruknya ada yang nggak kesaring terus ngga sengaja kegigit. 

Ya udah deh segini aja! Selamat ulang tahun wahai diriku sendiri...

Monday, June 7, 2021

PENGALAMAN VAKSINASI COVID-19 PERTAMA DAN RAPID ANTIGEN

Sebenarnya sih paling lemah kalo udah ngomongin jarum suntik, darah, rumah sakit, atau tindakan medis apapun. Beberapa tahun lalu pernah sakit maag parah sampai jerit-jerit seharian, pas dibawa bapak ke rumah sakit, dokternya nanya, "Mau di opname?". Badan langsung lemes seketika, tapi ajaibnya rasa sakitnya langsung berkurang total. Gak tau otak nge-press saraf mana kok bisa ajaib gitu rasa sakit hilang seketika saking takutnya diopname. 

Nah di tengah wabah Covid yang masif ini, resiko untuk disuntik, sakit atau masuk IGD kayaknya semakin meningkat. Kita nggak bisa jamin kapan atau dimana kita bisa mendadak terpapar Covid-19. Semua orang beresiko lumayan tinggi, mau gak mau kita harus berani menghadapi jarum suntik, check up dokter, dll. Paling enggak yang harus dihadapi adalah suntikan vaksin dan rapid antigen.

Btw, tanggal 5 Juni kemarin,  saya dapat suntikan vaksin Covid-19 pertama saya di GBA Tabgha Batam. Jenis vaksin yang disuntikkan adalah AstraZeneca. Pas disuntik, beyond expectation ga ada rasa sakitnya sama sekali. Sampai mikir, udah nih gini aja?. Hepi banget karena berarti sudah ngga perlu panik nih menghadapi vaksinasi ke 2. Situasi aman terkendali bos!

Vaksinasi di GBA Tabgha Batam

Vaksinasi di GBA Tabgha Batam

Setelah selesai vaksin, kita bakalan dikirimi SMS berisi link sertifikat vaksinasi sebagai tanda kalau kita sudah divaksin untuk pertama kalinya. Selain itu, kita juga bakalan dikirimin satu SMS lagi berisi nomer tiket vaksin kedua, tanggal vaksin kedua beserta lokasi vaksinnya.


Sertifikat Vaksinasi


Nah, sekarang mari kita bahas efek samping yang dirasakan setelah vaksinasi. Dari siang sampai sore, ngga ada efek samping serius yang dirasain. Paling di bekas suntikan vaksin terasa agak pegel dan bengkak. Mulai malem, badan mulai anget. Makin lama makin panas sampai sakit kepala, jadi malam itu saya langsung minum Panadol Extra yang udah disiapkan dari pagi. Tapi nggak nyangka banget, kafein di obatnya malah bikin gak bisa tidur sampai jam 4 pagi dan sakit di lengan malah makin menjadi-jadi. Jadi... semalaman saya cuma bisa karokean sendiri buat buang ekstra energi... Jam 7 an  pagi, saya udah kebangun lagi, jadi total cuma bisa tidur 3 jam aja. Syukurnya pas bangun udah ngga sedemam sebelumnya walau badan masih rada anget-anget. Lengan masih sakit sampai sekarang, tapi udah jauh lebih mendingan.

Hari kedua setelah vaksin, tangan masih sakit, tapi aktivitas udah mulai bisa normal. Malamnya, mulai demam-demam dikit tapi nggak separah hari pertama, dan pagi ini, meriang-meriangnya udah hilang total.

Pembahasan vaksin selesai! Nah sekarang mari kita bahas pengalaman saya menjalani rapid antigen. FYI, walaupun kita udah divaksinasi, kita masih punya kemungkinan untuk kena Covid-19 juga lho, walaupun kemungkinannya lebih kecil dibandingkan dengan orang yang belum divaksin. Jadi kalau orang disekeliling kita ada yang positif atau kita sempat berinteraksi dengan pasien Covid-19, rapid atau PCR harus tetap dilakukan untuk memastikan kalau kita dalam kondisi bebas Covid-19.

Btw, udah dua kali hidung ini dicolok rapid antigen karena beberapa temen kantor ada yang positif, jadi semua staff harus antigen dua kali, kantor membuat kebijakan rapid dua kali untuk mencegah hasil false negatif. Beberapa staff yang kontakan langsung dengan pasien positif Covid-19, atau positif saat antigen harus lanjut ke tes PCR. Untungnya... so far saya nggak harus melewati pedihnya PCR. 

Terus gimana sih rasanya rapid antigen? Jujur agak aneh sih rasanya. Sakit banget enggak juga, geli, gatel banget juga enggak. Nano-nano aja gitu, tapi bikin ga nyaman. Seperti anda ngupil terlalu dalam... Tapi ya nggak sesakit yang dibayangkan sih, masih bearable dan rasa nggak nyamannya hilang dalam 5-10 menitan setelah selesai. Alhamdulillah...  Sampai hari ini hasil tes masih terus negatif. Badan masih sehat, paling mentok sakit kepala dan sakit pinggang aja karena masalah kerjaan... 

Dah gitu aja deh pengalamannya.

Stay safe semuanya!  Semoga kamu juga tetap sehat... :)

Saturday, June 5, 2021

Berkaca...

Memikul  tanggung jawab laki-laki dan perempuan di atas pundak secara bersamaan. Sampai batas tipis siapa harus melakukan apa, terlihat semakin tak kasat mata.

Ditambah telinga ini harus terus mendengar mulut-mulut sumbang yang hanya bisa bicara tanpa bertindak nyata.

Tak punya pilihan selain menghadapi sikap-sikap egois yang semakin lama semakin menjadi. Mulut yang terkunci kecuali untuk mencaci, hati yang tertutup kecuali untuk saling membenci. Tangan yang urung terlurur karena menahan gengsi.

Pandangannya terus menerus menatap masa lalu.

Menyalahkan.
Menatap sinis.

Kalau bisa berseteru, kenapa harus bersatu?

Kadang ingin mengeluh. Sudah capek sekali...

Terkadang terlintas di dada, kenapa rasanya kok makin berat saja.

Kadang ingin berlari menjauh dengan kencang juga seperti mereka, egois saja, jangan pernah menoleh ke belakang lagi...

Tapi nurani sering bertanya... Apa mau berkaca lalu melihat mereka sebagai pantulanmu? 

Pundak ini terasa merapuh, tapi kedua kaki tetap harus tetap tegak tak boleh goyah.

Friday, June 4, 2021

SCARCITY

Ada yang pernah bilang, manusia mempunyai kecenderungan untuk menghargai sesuatu yang tidak bisa didapatkannya dengan mudah. 

Banyak orang dengan sengaja mengabaikan telpon dari ayah atau ibunya saat jalan sama temen-temennya, atau pas lagi nonton bioskop... karena... kebanyakan dari kita cukup beruntung untuk punya ayah-ibu lengkap dan penuh perhatian pula. 

Tapi, bagi sebagian orang yang tidak cukup beruntung untuk punya ibu atau ayah, mereka mungkin akan rela kehilangan kesempatan untuk jalan dengan teman-teman, nonton bioskop, makan diluar dll, hanya untuk merasakan waktu bersama ayah atau ibu, walau hanya sehari aja.

Banyak orang mengabaikan perhatian-perhatian kecil dari orang terdekatnya, lalu mulai merasa kehilangan ketika hal-hal manis tersebut mendadak hilang. 

Makanan ringan yang dimasak dengan cinta setiap hari lama-lama akan terasa hambar... Sampai ia tak tersaji lagi di hadapanmu. 

Ucapan selamat tidur yang manis terasa mengganggu, sampai saat waktu telinga itu tidak pernah mendengarnya lagi. 

Waktu yang dihabiskan bersama terasa menyesakkan... Sampai ia menghilang dari hidupmu. 

Sayangnya, manusia memiliki kemampuan tak terbatas untuk tidak mensyukuri apa yang dimilikinya. 

Terus menginginkan apa yang tidak ada di dalam genggamannya. 

Sesuatu yang terhalang jarak.

Sesuatu yang terhalang perbedaan.

Sesuatu yang terhalang logika.

Kata terhalang membuat sebuah objek jadi semakin menarik. Membuat kita tergoda untuk melangkahi garis-garis batas yang berbahaya.

Berani berharap lebih? Selamat, karena telah membodohi dirimu sendiri.